Ibu Guru Cantik Memberikan Tambahan Pelajaran Sex Karena Nilai Ulanganku Jelek

Situs Cerita Dewasa – Aku siswa SMA di sebuah sekolah negeri Jakarta. Aku merupakan siswa yang dibilang cukup pintar di kelasku. Apalagi setelah aku menang olimpiade komputer tingkat provinsi, namaku jadi makin dikenal di sekolahku. Nilai-nilai ku di sekolah juga bisa terbilang bagus. Selalu dapat nilai diatas 7.

Kecuali pelajaran pkn, pelajaran yang paling susah menurutku. Aku tidak pernah mendapat bagus. Paling bagus cuman dapat 7. Hari rabu ini, aku belajar seperti biasa. Tapi saat pelajaran pkn, Bu Bela, guru pkn ku tidak masuk. Biasanya Bu Bela tidak pernah telat. Seperti biasa, kalau tidak ada guru masuk, kami sekelas selalu ngobrol di kelas. Tiba-tiba ada seseorang perempuan yang tidak ku kenal masuk ke kelas ku.

Bu guru : “Hayoo jangan pada berisik. Oh iya perkenalkan, nama saya Ibu Fani. Umur 21 tahun. Ibu ada disini karena ibu dipesen sama ibu tanti untuk ngajar disini karena beliau sakit dbd. Ibu seterusnya akan menggantikan ibu tanti mengajar disini selama 1 semester karena ibu lagi praktek kerja lapangan untuk belajar jadi guru.”

Anak-anak : “Yaaaahhhhhh but anti engga masuk deh”, jawab teman-temanku serentak sambil senyum

Bu diah : “halah ibu tau kalian pada seneng kan? Oke ibu dipesen kalo hari ini ibu ngajar bab 2. Coba buka buku kalian”

Anak-anak : “Iya buu”

Anak-anak begitu antusias ketika pertama kali diajar Bu Fani. Dulu selama diajar Bu Bela tidak pernah seperti ini. Bu Fani masih muda, cantik, baik lagi. Coba dia jadi pacarku, wah aku seneng banget, pikirku dalam lamunanku. Sejak kehadiran Bu Fani, aku lebih sering melamun. Terlalu sering liatin Bu Fani ketimbang liat buku. Bagiku, Bu Fani adalah cewek yang ideal. Tak terasa sudah bel istirahat sekaligus jam Bu Fani hari ini sudah selesai.

Bu diah : “sebelum ibu keluar, ibu mau kasitau kalo minggu depan ulangan bab 2. Ibu dipesen Bu Bela”

Anak-anak : “yah kok baru diajar sebentar langsung ulangan sih? Bikin soal yang gampang ya bu”

Bu Fani : “yaudah ibu bikin yang gampang. Tapi kalian semua harus dapet bagus ya? Oke ibu keluar dulu. Selamat siang anak-anak”

Anak-anak : “asiik ulangan nya dibikin gampang. Selamat siang bu”

Sepulang sekolah aku langsung buka buku pkn. Aku belajar biar dapet bagus dan demi Bu Fani aku belajarnya hehehe. Tidak seperti biasanya, aku sepulang sekolah selalu belajar, tak terkecuali pkn. Karena ada Bu Fani aku jadi semangat untuk dapet bagus.

Seminggu kemudian, Bu Fani menepati janjinya untuk mengadakan ulangan. Bu Fani membagi-bagikan soal ke setiap anak. Begitu aku menerima soal dan aku liat, agak susah menurutku. Aku kerjakan nomer yang aku bisa. Sisanya yang aku engga bisa aku lewatin dulu. Begitu aku liat temenku yang lain, udah hampir selesai padahal waktu ulangan masih 40 menit lagi.

Terpaksa aku liat jawaban temenku yang duduk di sebelahku. Kebetulan Bu Fani lagi keluar sebentar, jadi ada kesempatan buat aku untuk nyontek. Baru nyontek 2 nomer, tiba-tiba Bu Fani masuk ke kelas dan sempet liat aku lagi nyontek, tapi Bu Fani tidak menegurku dan malah mengawasi anak yang lain. Sepertinya Bu Fani membiarkan saja dan pura-pura tidak tahu atas apa yang aku perbuat tadi, tapi apa urusanku.

Yang penting sekarang ada 4 nomer kosong lagi yang harus diisi. Aku jadi lebih berhati-hati dan lebih memperhatikan situasi. Setiap kali Bu Fani mengawasi anak lain aku langsung nyontek temenku. Tak terasa sudah bel. Aku langsung mengumpulkan jawabanku ke Bu Fani. Dan setelah semua anak mengumpulkan jawaban, Bu Fani mengucapkan selamat siang sambil keluar kelas.

Aku masih kawatir sama kejadian yang tadi. Apa Bu Fani enggak marahin aku tapi nilaiku dibikin jelek nantinya? Ah sudahlah nunggu Bu Fani koreksi jawaban aja, pikirku. 2 hari setelah ulangan, Bu Fani masuk ke kelasku untuk membagikan hasil ulangan. Anak yang dipanggil namanya langsung maju dan menerima hasil ulangan nya. Begitu namaku disebut, aku melihat nilai 6,5. Sebelum aku kembali ke tempat duduk, Bu Fani bilang “nanti pulang sekolah kamu ke ruang guru ya. Ada yang mau ibu bicarain sama kamu.” Aku langsung deg-degan. Tapi aku sudah berusaha mencoba tenang dan tidak akan diomelin nanti.

Sepulang sekolah, aku langsung menghadap Bu Fani.

Bu Fani : “Wahyu, kok cuman kamu yang dapet jelek? Padahal kan gampang itu ulangan nya.”

Wahyu : “saya udah belajar bu. Seminggu yang lalu pas ibu bilang mau ulangan saya langsung belajar pkn”

Bu Fani : “walaupun begitu, kamu masih tetep kurang maksimal belajarnya. Gimana kalau ibu kasih kamu tambahan biar kamu dapet bagus?”

Wahyu : “wah boleh tuh. Dimana bu?”

Bu Fani : “ini alamat rumah ibu. Kamu dateng hari minggu siang. Tapi jangan bilang siapa-siapa ya kalau kamu dapet tambahan”, memegang kedua tanganku sambil tersenyum.

Wahyu : “Oke bu. Yang penting nilai saya jadi bagus”

Aku langsung salaman sama Bu Fani dan bergegas pulang ke rumah. Alangkah senangnya aku hari ini, karena cuman aku yang dapet tambahan sama Bu Fani dan aku disenyumin bu diah. Bener-bener cantik. Aku jadi makin suka sama Bu Fani. Dari pulang sekolah, aku senyum terus. Sampe-sampe pas di bis aku diliatin sama ibu-ibu. Sampe rumah aku langsung mikirin Bu Fani terus. Seandainya Bu Fani jadi pacarku, terus aku mikir ah engga mungkin itu. Dari pada mikir yang engga jelas terus mending belajar aja deh.

Hari minggu jam 1 siang, aku pergi ke rumah Bu Fani. Rumahnya engga begitu jauh. 10 menit dari rumahku. Aku melihat rumah Bu Fani yang sederhana tapi bersih. Aku memencet bel 3x, Bu Funi keluar.

Bu Fani : “Oh Wahyu ibu kirain siapa. Ayo masuk, engga dikonci kok”

Aku langsung masuk begitu dipersilahkan. Bu Fani memakai baju biru dengan rok hitam yang ketat. Aku jadi makin suka sama Bu Fani.

Bu Fani : “Kamu mau minum apa?”

Wahyu : “Engga usah repot-repot bu. Apa aja boleh”

Tak lama kemudian, Bu Fani membawakan aku air putih. Setelah aku meminum sedikit, Bu Fani langsung mengajariku bab 2. Aku jadi lebih mengerti kalau diajarin sama Bu Fani. Tak terasa sudah 2 jam belajar sama Bu Fani.

Wahyu : “Bu makasih ya, saya jadi lebih ngerti kalau diajarin sama ibu. Saya pulang dulu ya”

Bu Fani : “Kamu jangan pulang dulu deh, masa cuman belajar? Oya kita ngobrolnya pake aku kamu aja. Nonton tv dulu aja”

Wahyu : “yaudah terserah kamu aja deh”

Akhirnya kami ke ruang tengah dan duduk di sofa sambil nonton tv. Tiba-tiba dia menyandarkan kepalanya di bahuku. Aku beranikan diriku untuk membelai rambutnya.

Bu Fani : “Aku ada hadiah buat kamu nih, tapi tutup mata dulu ya”

Wahyu : “Kenapa engga langsung kasih aja?”

Bu Fani : “kamu nih disuruh tutup mata tapi masih buka, ih bandel”

Aku mengalah saja. Kututup mataku sambil bertanya-tanya dalam hatiku, apa yang mau dia kasih. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang lembut di bibirku, ketika aku membuka mataku, aku terkejut melihat guruku sendiri menciumku. Aku menyedot lidahnya sambil kucium-cium bibirnya, lalu kuteruskan dengan mencium-cium daun telinga dia sambil berkata “Aku sayang kamu”. Setelah daun telinga, kuterusi ke leher, ku pegang-pegang leher bagian belakang dengan kedua tanganku sambil ku cium-cium lehernya.

Dia begitu menikmatinya hingga matanya merem melek dan mendesah. Dari leher tanganku turun ke dada, kuremas-remas dadanya sambil kujilati putingnya. Desahan nya semakin kencang, ku gigit pelan puting kiri nya, tangan nya sambil mengocok penisku. Aku langsung ganti posisi 69. Aku bisa melihat dengan jelas memiaw Bu Fani… baunya harum dan segera ku jilat, rasanya benar-benar enak. Pasti dia sering memelihara badan nya. Ku mainkan lidahku di bagian klitoris dan labia mayora, sembari ku masukkan lidahku ke dalam liang vagina nya.

Erangan nya tambah kencang. Sedotan Bu Fani juga enak, seluruh batang penisku dilumatnya, benar-benar enak. Saking enaknya, tak terasa aku sudah dibuat keluar oleh Bu Fani. Setelah aku mencapai kepuasan, kini gantian Bu Fani yang aku buat puas. Aku memasukkan jariku ke dalam lubang vagina nya sambil ku jilat-jilati bibir vagina diah yang berwarna pink.

“ahh… aku engga tahan nih”

Ku percepat gerakan tanganku ke dalam vagina nya sambil kupegang klitoris nya dan akhirnya Bu Fani orgasme juga. Orgasme nya benar-benar deras sampe membasahi muka ku dan sebagian ranjang nya.

“Wahyu maafin aku ya, keluar sampai banyak gitu ngenain muka kamu”

“kalo kamu yang keluarin engga apa-apa”, aku langsung mencium bibir nya.

“masukin ademu ke dalem marmutku dong… kepengen nih aku”

Aku ambil posisi missionary, ku masukkan adekku dengan perlahan, masuk ke dalam vagina nya benar-benar sempit. Dia masih perawan, ku masukkan dengan perlahan penisku agar dia tidak kesakitan. Ku percepat sedikit, Bu Fani tampaknya meringis kesakitan, ku tak perdulikan erangan itu. Langsung ku masukkan seluruh penisku ke dalam vagina nya. Ya aku mendapat perawan nya Bu Fani.

Dia tampak menangis kecil menahan kesakitan, langsung saja ku cium untuk meredakan efek sakitnya. Aku mulai mempercepat permainanku. Expresi muka diah berubah, tadinya agak kesakitan sekarang berubah menjadi penuh nafsu. diah makin menikmati permainanku, ditambah desahan nya makin kencang. Aku pikir penisku mengenai bagian g-spot nya. Ku sodok penisku di bagian itu, tak lama Bu Fani pun mengalami orgasme yang kedua. Aku mengajak Bu Fani untuk ganti posisi wot.

Penisku perlahan dimasukkan ke dalam vagina nya… Bless, benar-benar nikmat, ditambah dengan otot vagina nya yang meremas penisku membuat kenikmatan nya bertambah. Bu Fani terus mendesah keenakan, goyangan nya hot juga, padahal baru pertama kali merasakan. 6 menit kemudian, goyangan nya makin cepat. “ahh aku mau keluar lagi nih”

“eh jangan keluar dulu, barengan aja sama aku. aku juga bentar lagi kok”

Akhirnya kami keluar secara bersamaan. Sperma ku banyak keluar di dalam dan Bu Fani orgasme juga cukup banyak. Setelah kami “bertarung”, Bu Fani memeluk ku dan menciumku. “makasih ya sayang, kamu udah bikin aku ngerasain nikmatnya bercinta”

“ya sama-sama sayang. Ngomong-ngomong, kamu mau engga jadi pacarku? Aku sayang banget sama kamu. Sejak pertama kali liat kamu, mulai ada perasaan suka sama kamu. Aku selalu mikirin kamu terus di rumah. Aku juga dulu kepengen kamu jadi pacarku.”. diah terdiam sejenak. Dia menitikkan air mata.

“aku juga sayang sama kamu. Aku engga mau kehilangan kamu.”

Kami berpelukan dan berciuman lagi. Tak terasa sudah jam 3 sore. Kemudian aku pamit sama Bu Fani untuk pulang. Hari-hari berikutnya berlangsung seperti biasa, tidak ada yang tahu tentang hubungan kami berdua. Sejak saat itu, kami mulai rajin bercinta setiap hari minggu dan sabtu. Mudah-mudahan saja hubunganku dan dia bisa langgeng.

 

Leave a Reply