Menikmati Genjotan Adik Ipar Saat Istri Menemani Anakku Di Rumah Sakit

Situs Cerita Dewasa – Cerita mesum ini merupakan kejadian yang memalukan sekaligus menyenangkan tentang perselingkuhanku dengan adik iparku Sinta.

‘Halo’, kataku menyambut telepon.
‘Oh, kakak!!, Mbak Sari mana kak’, suara diseberang menyahut.

‘Sinta??, kapan balik ke Jakarta, mbakmu lagi piket, telepon aja ke HP-nya deh, sahutku sambil bertanya. ‘Gak usah deh kak, sampaiin aja kalau aku pertengahan juni mau balik, aku kangen banget deh’ jawabnya lagi.

‘Oke, deh ntar aku sampaikan, take care ya’ jawabku datar dan menutup telepon.

Kemudian ingatanku melayang beberapa tahun lalu, dimana saat itu dia banyak problem,.. cowok, drug, bahkan sempat pula berurusan dengan pihak berwajib karena tertangkap tangan atas kepemilikan Narkoba. Atas saranku Sinta, adik kandung Sari ke Jakarta dan sekarang telah bekerja di Singapura untuk memulai sesuatu yang baru.

Sinta 28 tahun, seperti juga saudaranya berwajah cantik, kulitnya bersih, mata lebar, hidung mancung, rambut berombak di ujung dengan postur tubuh proporsional. Karena obsesi untuk mandiri dan sifatnya yang keras kepala itulah dia terperosok dalam problem berkepanjangan.

Sinta sebelumnya tinggal di Surabaya, disana dia bekerja sebagai penyanyi. Dari pekerjaannya itulah (yang sebenernya tidak kami sukai) Sinta sempat ditahan polisi 1 malam karena narkoba, sebelum kami datang dan dipanggil untuk memberi keterangan.

Sejak peristiwa ditahannya Sinta 3 tahun lalu, Sinta sering telepon aku dan bercerita tentang keadaannya, teman lelakinya dan biasanya cukup lama, minimal 35 menit. Sinta lebih dekat denganku dan sering ‘curhat’ daripada kakaknya. Dalam setiap pembicaraan, Sari selalu memberi tanda agar aku ‘merayu’ Sinta untuk pindah ke Jakarta dan mencari pekerjaan di sini.

Sari tau kedekatan kami itu, bahkan mendorong untuk dapat mengontrolnya melalui aku, karena sejak kecil Sinta memang susah nurut dan bandel. Awalnya aku hanya menganggapnya sebagai tanggung jawab seorang kakak terhadap adik, sebelum terjadi ‘sesuatu’ yang tidak semestinya kami lakukan.

Awal maret 2018, Sinta telepon memintaku untuk menjemputnya di stasiun Gambir, Sari sangat gembira dengan berita itu dan segera mempersiapkan kamar untuknya. 12 maret 2018 aku jemput Sinta sendiri, karena anak bungsuku sakit, dan kami duga demam berdarah. Sinta datang sendirian, padahal rencananya bersama Hendrik ‘cowoknya’ yang keturunan.

‘Kok, sendirian kak??’ mana ponakan2ku, tanya Sinta saat aku sambut barang2 bawaannya.

‘Andi lagi sakit, kayaknya demam berdarah deh, terpaksa diisolasi dari sodaranya’ jawabku ngeloyor menuju mobil. Sambil merokok dan berlari kecil Sinta mengikuti aku, ‘Kesian yah, aku kangen sama mereka’ katanya.

‘Kak, tau nggak kenapa aku kesini?? tanyanya di mobil.

‘Yah, kamu mau refreshing kan, kamu udah sadar dan mau kerja yang sesuai sama ijazahmu, kan?’ jawabku sekenanya.

‘Yang lain donk’ komentarnya manja.

‘Apa yaa, paling putus atau mau lari dari cowokmu, hahahaha’ aku tertawa geli karena pinggangku digelitiknya.

‘Sekarang bulan apa kak?’
‘Maret’ jawabku sambil terus nyetir.

‘Bulan maret ada apa ya??’ Sinta mengerling, tangannya meremas tanganku saat di persneling..

‘Sinta,.. Apaan sih’, kataku berusaha menepis tangannya yang kemudian bergerak mau gelitiki aku lagi. Tanganku ditangkapnya, digenggam kemudian dicium sambil bertanya manja

‘Kakak sayang Sinta nggak sih?’

‘Sinta.. aku kakakmu, aku sayang kamu seperti Sari menyayangimu’ kataku jengah dan menarik tangan.

‘Kak,.. aku sayang dan mengagumi Kak Bobby, lebih dari itu.., aku sayang sama kakak, karena bisa ngertiin aku, pahami aku, bisa ngemanjain aku dan..tau nggak, aku bisa orgasme kalau lagi teleponan sama kakak’..katanya sambil meraih tanganku lagi.

‘Sinta.. aku gak mau ngerusak semuanya dengan perbuatan bodohmu’, jawabku marah namun sebenernya menahan gejolak. Sinta terdiam dan melepas tanganku. Itu lah 35 menit pembicaraan kami di perjalanan menuju ke rumah.

Sampai di rumah Sari menyambutku dengan ciuman sambil bilang mau ke RS karena andi anak ke tiga ku panas udah lebih dari 2 hari. Aku segera ke kamar melihat keadaannya, sementara Sinta dan Sari menuju ke kamar di lantai 2 yang telah disiapkan.

‘Maa, cepetan yah’ aku beri isyarat agar Sari segera bersiap.

‘Sinta, mandi terus istirahat dulu yaa, ntar ngobrolnya deh’ kata Sari ama Sinta..OK boss sahut Sinta.

Singkatnya Andi harus segera dirawat di RS saat itu juga.

‘Andi maunya ditemenin sama mama aja yaa? pinta anakku lirih..
‘Iya sayang, mama akan temenin anak tersayang mama deh’ Sari menghibur.
‘Janji ya maa..’

Setelah Andi tidur aku rundingan sama Sari, keputusannya adalah aku akan nungguin Andi malem dan langsung berangkat kerja dari RS.

‘Paa, sekarang jemput Sinta ya.. ajak dia kesini, sekalian bawain aku beberapa pakaian, aku pengen ngobrol disini’.

‘Oke sayang’, jawabku setelah merasa semua beres.

Sesampainya di rumah, aku siapkan beberapa pakaian yang pantas, termasuk pakaian dalem Sari. Aku naik ke lantai 2 (kamar Sinta) mau ambil tas, ku ketuk pintu dan memanggilnya.. Tapi gak ada sahutan, aku berasa gak enak dan telepon istriku

‘Kalo gak dikunci masuk aja deh paa, soalnya semua tas ada disana’
‘Tungguin si Bengal itu bangun, biarin dulu dia istirahat ntar kalau bangunin sekitar jam 12-an.

Aku manusia biasa, seorang lelaki mana yang tidak tergoda dengan keadaan ini ; gadis cantik tertidur pulas, tanpa selimut. Sangat menggairahkan dengan rambut setengah basah tidur terlentang hanya dengan CD kecil terikat di pinggul dan sepasang bukit indah bebas tanpa penutup, ada kesempatan lagi. Aku terpaku untuk sesaat.. batinku sedang berperang.. dan.. akhirnya aku menyerah.

Ku hampiri Sinta (yang sedang tertidur??), aku ambil selimut yang terjatuh di lantai dan menutupi tubuh indah itu, tapi Sinta sepertinya gak mau di selimuti. Gerakan tangannya menolak diselimuti. Aku kembali terdiam.., ku beranikan diri menyentuh tangannya,.. gemetar aku rasakan saat itu,..

Sinta masih terlelap bahkan mengeluarkan suara mendengkur. Nafsu sudah menguasai batinku juga ragaku, penisku sangat2 tegang.. Sinta lebih cantik, lebih putih lebih tinggi dari Sari.. dengan jari tengahku, ku telusuri tangannya hingga ketiak..Sinta menggeliat dan menyamping seakan memberiku ruang untuk duduk di sebelahnya.

Benar-benar kesempatan telah berpihak padaku,.. ku ulangi sentuhan jariku, aku belai rambutnya yang lembab dan berombak, aku cium keningnya, aku belai wajahnya sambil memanggilnya pelahan,.. “Sinta.., bangun sayang..mbakmu suruh kamu ke RS..”, (dengar atau gak aku gak peduli) ku ulangi kata-kata itu sambil terus membelai.., Sinta malah melingkarkan tangannya kepinggangku.

Tanpa ku sadari tanganku telah membelai kedua bukitnya, mempermainkan putingnya, sambil mengecup perlahan bibirnya. Sinta membuka matanya dan mendesah perlahan .. kakk, aku sayang kakak, aku ingin kakak sayang aku lebih dari seorang adik .. sebulan lebih aku meninggalkannya .. aku benci dia..

Ternyata dia telah berkeluarga, dan sampai saat ini belum ku temukan figur yang aku cari, kak.. sayangi Sinta.. tangannya menuntun tanganku ke daerah yang paling intimnya yang telah lembab, ketika jariku sedikit menekannya.. Ditariknya tubuhku sehingga menindih tubuhnya..

Sepertinya Sintai in the mood. Dalam keadaan masih berpakaian, aku peluk Sinta dan menindihnya, kami bergerak seirama seakan sedang bersenggama.. Tiba-tiba telepon berteriak nyaring, seakan menyadarkan agar tidak berbuat lebih lanjut.

‘Pahh, udah bangun si Bengal tuh,.. Siram air aja kalo gak bisa, cepetan nih udah jam berapa sekarang? gerah nih, jangan lupa dasterku’.

OK, jawabku dengan nafas masih memburu menahan nafsu. Permainan kami terhenti dengan un happy ending..

13 maret, Di tempat kerja setelah mendapat ucapan selamat dan ciuman pipi dari rekan2 atas ulang tahunku, aku masih nggak abis pikir.. why it happen?? jahat amat aku,.. disaat usia bertambah tua, anak sedang sakit.. aku malah mengumbar nafsu.. IPARKU lagi.. Udah lah I wont do that again, biar Sinta yang nunggu Andi .. pikirku.

Jam 15.30 sepulang kerja, aku mampir ke Pizza Hut beliin makanan kesukaan Andi sebelum ke RS. Saat dikamar Sinta menyambutku dengan ciuman mesra di bibir.. met ulang tahun sayang.., Gila nih anak pikirku.. ‘Sari’, aku memanggil istriku..

Sari keluar kamar mandi, langsung memelukku, ‘Met ulang tahun pah.. hadiahnya ntar aja nunggu Andi sembuh, katanya main mata nakal. Sekitar jam 19.30 aku mau balik, pulang ganti baju. ‘Pah, ntar aja pulangnya, jam 21.30 an aja soalnya Andi gak mau kalau gak ditungguin mama, papa dirumah aja deh..’ biar mama yang tungguin Andi.

‘Yah..gimana nih, ntar kamu ditemenin Sinta ya, papa mau pulang urusin si rio ama intan’. ‘Tadi Sinta bilang mau ketemuan sama temennya, mungkin dia mau keluar malem ini, pulang bareng sama papah aja ya, ntar kasi kunci cadangan rumah di laci lemari ya’ jawab Sari.

Gawat..tapi ada rasa senang juga terbersit di pikiranku. Malaikat batinku menyayangkan kenapa Sari begitu percaya pada hubungan kami, sedang syaitan di jiwa-ragaku bersorak kegirangan sampai penisku berkedut.

Singkatnya kami tinggalkan Sari yang menjaga Andi. di perjalanan Sinta bilang ingin memberiku sesuatu untuk melampiaskan apa yang terpendam di sanubarinya dan membohongi kakaknya sendiri. Seperti biasa Rio dan intan udah berada di kamarnya jam 21.00.

(Sari sangat disiplin dalam mendidik anak). Aku periksa tas mereka nge-cek PR. Setelah mencium pipi mereka, aku turun dan mandi, (Sinta udah ke kamarnya). Jam 23.00 after I call Sari 2 say good night, terdengar ketukan pintu, saat ku buka Sinta menerobos masuk dengan pakaian tidur cream.

‘Kak, .. Sinta mau tidur sama kakak, pengen dipelukin dan dimanjain..

Saat itu yang pertama bereaksi adalah si Ucok di dalam sarung dan berteriak mengacung.. MERDEKA.. Dapat dibayangkan 2 orang berlainan jenis dalam 1 kamar yang dingin.. Sinta memelukku.. aku balas memeluknya erat. Sangat lama kami berpelukan.. Dalam posisi berdiri, kami berpelukan seakan berdansa.. setelah puas, aku gendong Sinta ke pembaringan.., ku rebahkan dia, ku tanggalkan pakaian tidurnya, Sinta hanya menggunakan G string.,..

Sinta pasrah, menikmati, badannya yang polos.. Sinta memandangku saat aku buka sarung, satu-satu nya penutup bagian tubuhku.. Ku rebahkan diriku disamping tubuhnya, aku cium dan rasakan tiap jengkal tubuhnya, bukitnya yang putih begitu indah mencuat, kontras dengan tanganku yang hitam.. Kak.. Aku sering mimpikan ini.. kak.. puaskan aku.., sayangi aku..

Ku remas bukit indahnya sambil menciumi putingnya,.. Sinta menggelinjang hebat.. tangannya meraih penisku.. Dikocoknya perlahan.., ku masukkan tanganku, ke dalam CD G string hitam Sinta, Sinta mengangkat pinggulnya membantuku melepas satu2nya penutup tubuhnya. Lembab dan basah vagina Sinta oleh lendir hasrat, ku tekan ujung jariku sedikit masuk, otomatis pinggulnya mengangkat dan berusaha agar jariku masuk lebih dalam.. beberapa lama aktifitas itu aku lakukan. Sinta pengen hisap punya kakak.. pintanya.

Aku segera berdiri dengan penis masih teracung tegak, Sinta bangkit mengulumnya.. woww hisapannya luar biasa, penisku seakan berada dalam genjotan vaginanya.., segera aku atur posisi 69 untuk menikmati lendir gairah yang udah disediakan, setelah beberapa menit Sinta menggelinjang sambil berteriak, ‘kak.. Sinta pengen keluar, Kak .. genjotan-nya tambah liar. Ku hentikan jilatanku dan ku posisikan penisku penetrasi ke vaginanya yang benar-benar basah.

Clepp, mudah sekali penisku menerobos masuk, aku berusaha mempertahankan very slow..ku rasakan benar dinding-dinding vagina Sinta, saat ku temukan g spotnya, (sedikit dibawah permukaan dalam di bawah clitnya) ku arahkan agar tetap menyentuh area itu..

Sinta benar-benar tak dapat menguasai diri akibat genjotan yang kulakukan, dijepitnya pinggangku dengan kaki dan ditahannya pada posisi yang dikekehendaki.. Kakk.. ku rasakan denyutan dahsyat otot vagina Sinta, sangat kencang, lebih kencang dari denyutan Sata.., God.. i’m cumming.. teriaknya.

Saat kedutannya mengendor, ku percepat gerakanku, aku ingin menuntaskan genjotan ini.. beberapa genjotan sampai terasa telah hamper sampai, aku tarik penisku dan tumpahkan semua di luar.. Sindta agak kecewa.. namun aku tak segila itu untuk mempunyai seorang anak lagi.

Begitulah pengalamanku dengan adik iparku, Setelah Andi pulang, aku selalu berusaha mencari kesempatan untuk bersenggama dengannya dan menikmati genjotan-nya, Sinta sempat tinggal selama 6 bulan sebelum ada panggilan kerja di Malaysia.

Leave a Reply

error: Content is protected !!